
Lepas Masa Prapaskah, Niat Tergugah
| POJOK REFLEKSI |
Tak terasa masa retreat agung, masa Prapaskah, telah kita lalui dengan laku tobat dan penuh rasa syukur. “Lampah” 40 hari di tengah masa pandemi yang masih berlangsung sungguh menempa hati kita secara istimewa. Apakah secara pribadi kita semakin dekat dan menyediakan diri untuk mengalami perjumpaan batin dengan Tuhan? Apakah kita belajar rendah hati, mengakui segala kelemahan dan kekurangan kita, lalu bertobat? Apakah menjalani masa Prapaskah 2022, membukakan mata kita untuk semakin berbelarasa pada sesama terutama kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel (KLMTD)? Sudahkah ujub doa-doa kita yang awalnya hanya “mengetuk dan meminta”, bertambah menjadi “berpengharapan”, turut bersandar pada penyelenggaraan Bapa? Jawaban-jawaban atas pertanyaan ini tersimpan dalam sanubari kita masing-masing.
Lepas dari masa Prapaskah ini, meski di tengah pandemi COVID-19 yang belum usai kita diyakinkan bahwa pengharapan dan solidaritas, menguatkan, merekatkan, mengobarkan semangat juang kita menghadapi masa-masa sulit bersama.
Maka, sudah sepantasnya fondasi dan keyakinan kita itu diwujudnyatakan dalam aksi nyata berbelarasa dan menjadi pribadi penuh kasih dimanapun kita berada.
Jadi, saat ini, dimanakah kita? Apakah masih hanya aktif mengomentari berita-berita di media sosial? Atau sudah turut berbagi meski hanya sekian ribu penuh ketulusan untuk turut membantu kaum yang membutuhkan?
| Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu. |
| Amsal 14:31 |
Ide tulisan: Ibu Kristiana Firdausi, S.Pd — Developed By: Marganingsih Web Creator
